isoman pada anak

Panduan Ikatan Dokter Anak Indonesia terkait Isolasi Mandiri Untuk Anak Positif Covid Di Rumah

Panduan isoman untuk anak. Penularan virus juga terjadi pada anak-anak. Mereka biasanya tak bergejala atau mengalami gejala ringan.

Penularan virus juga terjadi pada anak-anak. Mereka biasanya tak bergejala atau mengalami gejala ringan. Pada anak yang diketahui positif Covid-19 melalui pemeriksaan Swab PCR dan kondisnya stabil, IDAI merekomendasikan untuk melakukan isolasi mandiri (isoman) di rumah.

Anak yang positif Covid-19 bisa isoman dengan syarat, tidak bergejala/ asimptomatik, gejala ringan (seperti batuk, pilek, demam, diare, muntah, ruam-ruam, anak tetap aktif serta makan dan minum.

Orangtua dapat tetap mengasuh anak yang positif. Disarankan mereka yang merawat yang memiliki risiko rendah terhadap gejala berat COVID-19. Jika ada anggota keluarga yang positif, maka dapat diisolasi bersama. Jika orangtua dan anak berbeda status COVID, disarankan berikan jarak tidur 2 meter, di kasur terpisah

Ada tanda bahaya jika muncul perburukan dan harus segera dibawa ke rumah sakit. Gejalanya antara lain:

  • Anak banyak tidur
  • Napas cepat
  • Ada cekungan di dada, hidung kembang kempis
  • Saturasi Oksigen <95%
  • Mata merah, ruam, leher bengkak
  • Demam > 7 hari
  • Kejang
  • Tidak bisa makan dan minum
  • Mata cekung

Alat dan Obat yang Perlu Disiapkan

Saat isoman anak di rumah, selalu sediakan termometer, oxymeter (pengukur saturasi oksigen dan frekuensi nadi). Lalu ada obat dan vitamin penting yang menurut IDAI bisa diberikan di rumah untuk mempercepat pemulihan. Berikut daftarnya:

  • Obat demam
  • Zinc
  • Multivitamin 20 mg/ hari selama 14 hari
  • Vitamin C: 1- 3 tahun: max 400 mg/ hari, 4-8 tahun: 600 mg/ hari, 9-13 tahun: max 1200 mg/ hari, 14-18 tahun: max 1800 mg/ hari
  • Vitamin D3: <3 tahun: 400 U/ hari, anak: 1000 U/ hari, remaja: 2000 U/ hari, remaja obesitas: 5000 U/ hari

Sumber : Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), parenting.dream.co.id

Leave a Reply